Video klipnya menurut gue bisa menggambarkan dengan pas lagunya tanpa perlu mengumbar adegan dramatis. Ada lucunya, romantisnya, sedihnya, dan tragisnya (untuk yang terakhir ini mungkin agak berlebihan ya, hehe).
Dunia, Mata, Kata
Tentang apa yang terlihat mata lalu dituangkan lewat kata-kata.
Jumat, 11 Mei 2012
Video Klip TERE - Pencuri Hati: Adegan EPIC!
Video klipnya menurut gue bisa menggambarkan dengan pas lagunya tanpa perlu mengumbar adegan dramatis. Ada lucunya, romantisnya, sedihnya, dan tragisnya (untuk yang terakhir ini mungkin agak berlebihan ya, hehe).
Senin, 30 April 2012
Senin Pagi yang Absurd
Ceritanya gini. Gue bangun tidur dan liat jam tangan, udah jam 07.15. Langsung gue mandi dan siap-siap berangkat kerja. Sebelum berangkat, gue nyempetin ngelirik jam tangan lagi. Ternyata jarum panjang ada di angka 3 dan jarum pendek di angka 8. Gue udah telat.
Sampe di stasiun, gue buru-buru beli tiket kereta yang berangkatnya paling cepet yaitu 08.55. Keretanya telat sekitar 5 menit, jadi baru berangkat 09.00. Sekitar 45 menit kemudian atau 09.45, gue sampe kantor. Artinya gue telat 15 menit. Itu rentetan waktu yang ada di kepala gue dan gue percaya itu sebagai kenyataan.
Sampai di kantor, gue kaget. Gue bertanya dalam hati, "Kenapa ni kantor sepi amat ya?" Terus gue tanya ke salah satu temen kantor, "Pada ke mana? Kok sepi?" Temen gue itu bilang, "Belum pada dateng." Gue kaget dan langsung liat jam tangan. Dan, Jreng! Jreng! Jarum panjang ada di angka 9 dan coba tebak jarum pendek ada di angka berapa? DELAPAN! Itu artinya gue kembali ke 45 menit yang lalu?! Ya, gak dong. Ini penjelasannya.
Gue merunut kejadian demi kejadian pagi ini mulai dari gue bangun tidur sampe saat temen kantor gue itu bilang "Belum pada dateng" yang membuat gue seperti ditarik kembali ke dunia nyata (halah!).
Gue pun tersadar bahwa sejak bangun tidur sampe gue tiba di kantor sebenernya udah berserakan 'clue' yang mengindikasikan ada yang salah. 'Clue-clue' itu disodorkan di depan mata gue. Tapi gue gak sadar kalau itu adalah 'clue'.
(Clue 1) Suasana pagi jam 07.15 keliatan kayak jam 06.15. (Kenyataannya, emang jam 06.15)
(Clue 2) Ada orang yang nanya ke gue "Tumben berangkat pagi banget?" (Kenyataannya, emang gue berangkat kepagian)
(Clue 3) Kereta yang rutin gue tumpangin tiap pagi lebih penuh dari biasanya. (Kenyataannya, emang bukan kereta yang biasa gue tumpangin)
(Clue 4) Bungkusan nasi kuning yang dijual ibu-ibu depan gedung kantor gue masih tersedia dalam jumlah banyak padahal biasanya cuma nyisa 1-2 bungkus. (Kenyataannya, emang belum banyak yang beli karena masih pagi).
(Clue 5) Kantor gue yang biasanya jam 09.45 udah rame dan heboh tapi pas gue dateng masih sepi. (Kenyataannya, karena gue dateng kepagian 45 menit!)
Jadi, jangan ngeremehin hal-hal kecil yang tidak biasa yang ada di sekeliling kita. Bisa jadi itu adalah 'clue' bahwa ada sesuatu yang salah. (*)
Sabtu, 28 April 2012
Modus Anomali : Cerdas dan Mengejutkan
Sejak awal saya sudah menduga Modus Anomali tidak akan sesimpel yang ditampilkan dalam trailer atau yang diungkap oleh sinopsis
di situs jaringan bioskop. Dan benar saja.
![]() |
| Salah satu adegan dalam Modus Anomali (modusanomali(dot)com) |
Datang ke bioskop dengan ekspektasi tinggi, saya pulang dengan
kepuasan tingkat dewa (halah!). Baru kali ini saya menonton film lokal tanpa
menggerutu dalam hati “Kalau aja begini, begitu, filmnya bakal lebih bagus”
atau “Filmnya terlalu dramatis kayak
sinetron”. Saya sudah menonton Janji Joni
dan Pintu Terlarang yang juga dibesut
Joko Anwar. Tapi Modus Anomali-lah
yang paling memuaskan saya.
Seorang laki-laki terbangun di tengah hutan. Lalu menemukan istrinya
yang tengah hamil tewas dibunuh secara brutal di sebuah pondok. Kedua anaknya menghilang.
Dan kini ia dikejar-kejar sang pembunuh. Standar? Jangan buru-buru menilai.
Saya suka skenarionya, cerdas. Alurnya bagus. Akting para aktor
dan aktrisnya juga bagus. Meski saya merasa Rio Dewanto agak kaku di beberapa
adegan. Tapi itu termaafkan dengan ending
yang membuat orang berujar, “Oh……” sambil mengangguk-anggukkan kepala. Saya
juga tak akan mempertanyakan “Kenapa film ini nginggris?” Karena itu tadi, saya puas!
Selain cerita, yang istimewa dari film ini adalah pergerakan
kameranya. Entah kenapa saya sangat suka dengan cara kamera mengikuti
gerak-gerik John Evans (Rio). Pergerakan
kamera yang dinamis membuat ketegangan terasa nyata. Penonton ditarik untuk ikut
merasakan ketegangan, kebingungan, ketakutan yang dirasakan John. Salah satu
contohnya adalah saat adegan John mengintip lewat jendela ke dalam pondok tempat
sumber suara seorang lelaki berasal. Saat John berjalan ke arah jendela itu, kamera
mengikutinya di belakang. Saya merasa seperti sedang ikut berjalan mengendap-endap
di belakang John. Kemudian dengan cepat kamera berada di samping John yang sedang
mengintip lewat jendela lalu ikut melongok ke dalam pondok. Kita seperti diajak
turut serta mengintip ke dalam pondok itu. Sensasi itu sangat terasa. Setidaknya
menurut saya.
![]() |
| modusanomali(dot)com |
Sejak adegan pembuka, Joko sudah memenuhi kepala penonton
dengan pertanyaan. Dan seiring berjalannya cerita, pertanyaan di kepala pun
bertambah banyak. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat saya tahan menonton
film ini sampai akhir. Hampir ¾ bagian film saya habiskan untuk mencoba mencari
jawaban dari apa yang saya sedang saksikan. Bukannya terganggu, saya malah
merasa makin antusias dan penasaran tentang apa sih yang coba disembunyikan rapat-rapat
oleh Joko. Di samping ketegangan, suspens adalah kekuatan film ini. Jadi jangan
menarik kesimpulan hingga Anda menyaksikan adegan terakhir.
Joko mengemas adegan demi adegan dengan sangat baik. Tak
sedetik pun saya merasa bosan (lebay!) walau minim dialog dan seluruh adegan
dilakukan di tengah hutan. Meski agak kaku di beberapa adegan, secara
keseluruhan Rio tampil mengesankan. Terutama
perubahan mimik wajahnya. Memang ada beberapa hal lucu antara lain derasnya
muntahan yang keluar dari mulut John dan perut ibu hamil (Hannah Al Rasyid)
yang terlihat palsu. Tapi, ya.. Masih bisa diterimalah.
Overall, film ini
keren dan berbeda dengan film lokal kebanyakan. Mungkin karena ‘berbeda’ inilah,
film ini tidak menarik bagi kebanyakan penonton film di Indonesia. Nasib yang
sama juga dialami film lokal ‘berbeda’ lainnya seperti The Perfect House garapan Affandi Abdul Rahman. Saat saya menonton
film ini di sebuah bioskop, yang menonton hanya tiga orang! Termasuk saya.
Modus Anomali
memang se-anomalistis judulnya. Cocok buat Anda yang suka film thriller dengan ending yang
menyentak. (*)
Selasa, 24 April 2012
Rabu, 18 April 2012
Flashback: Mulan Kwok bilang, "Rese Loe!!! T**!!
Di bawah ini adalah salah satu postingan di blog lama saya. Ya Tuhan..*geleng-geleng* Tulisan itu saya posting lima tahun lalu, waktu masih jadi mahasiswa tahun terakhir. Just so you know, Mulan Kwok (now, Mulan Jameela) was much much prettier at the time :))
“Cerita dimulai dari gw yang sedang asik browsing internet di warnet. Tiba-tiba listrik mati tanpa permisi. BYEET!!!!! langsung terdengar bunyi, tuut...tuut...tuut... yang pastinya bukan bunyi nada sambung telepon, tapi bunyi yang berasal dari satu alat yang mensupply listrik cadangan buat komputer operator warnet. Langsung hati ini memaki-maki perusahaan listrik satu-satunya di Indonesia itu, PLN maksud gw. Terpaksa gw harus mengakhi petualangan gw di dunia maya. Keluar dari warnet, gw langsung ke parkiran. Sambil siap-siap mau cabut, tiba-tiba....ada cewe yang keluar dari kios pulsa di depan warnet. Ya Tuhan, bening banget. Mirip Mulan Kwok, Sumpah! he he... Cewe itu membuka payungnya, karena kebetulan udah mulai gerimis. Dia siap-siap mau cabut dari situ, lagi berdiri di pinggir jalan. Entah dia mau nyebrang atau nungguin siapa, gw gak tau. Tiba-tiba terdengar suara-suara "aneh" yang berasal dari tempat gak jauh dari tempat gw berdiri. Ternyata segerombolan cowo2 yang sedang nunggu listrik nyala di tempat penyewaan play station. ''Suit...Suit....'' "Cewe!", "Hoi!!'', "Ha..Ha...". Itu beberapa 'bunyi-bunyian' yang berasal dari cowo2 itu. Yang pasti bukan ditujukan ke gw (He he he), tapi ke cewe yang berdiri di seberang jalan. Ada sekitar 30 detikan bunyi-bunyian itu terus terdengar sampai suatu ketika, dari seberang sana terdengar "RESE LOE!!! TAI!!!". Gw langsung terperanjat. What the?! Ternyata kata-kata 'indah' itu berasal dari cewe bening berpayung di seberang jalan. Gw bisa mastiin kata-kata 'indah' itu tertuju bukan buat gw (Thank God..). Tentu loe tau buat siapa. YUP!! Cowo2 itu langsung pada nunduk dan diam seribu bahasa. Gw ketawa terbahak-bahak dalam hati. "Rasain Loe!! Beraninya Rame-rame sih." Cewe bening itu langsung pergi meninggalkan gerombolan cowo2 itu dalam diam dan malu, sedangkan gw masih berusaha menahan ketawa gw dan mengingat-ingat wajah cewe itu Bening. Haha haha
Pelajaran 1: jangan pernah godain cewe bening yang lagi sendirian.
Pelajaran 2: kalo loe emang cowo, maju sendiri jangan rame-rame, apalagi dengan 'bunyi-bunyian' yang mengganggu itu. Haha haha.....
Pelajaran 3:camkan dan resapi baik-baik pelajaran 1 &2 di atas.”
Pelajaran 1: jangan pernah godain cewe bening yang lagi sendirian.
Pelajaran 2: kalo loe emang cowo, maju sendiri jangan rame-rame, apalagi dengan 'bunyi-bunyian' yang mengganggu itu. Haha haha.....
Pelajaran 3:camkan dan resapi baik-baik pelajaran 1 &2 di atas.”
Menengok ke belakang tidak selalu buruk. Kadang dengan melihat masa lalu, kita bisa menemukan diri kita yang dulu. Yang mungkin sudah kita lupakan. Lupa kalau kita pernah seperti itu (ciyeeehh). Dan betapa kita telah berubah (atau tidak sama sekali). Tulisan di atas membuat saya tersadar bahwa saya pernah muda (sekarang sudah lebih tua sedikit). Dan pernah suka Mulan Kwok (Yes. Guilty as charged).
Tapi yang lebih penting, tulisan-tulisan yang kita hasilkan, seremeh apapun itu, bisa sangat berarti. Terutama buat kita sendiri. Saat saya membaca tulisan di atas pagi ini, saya senyum-senyum sendiri. Itu yang saya maksud ‘berarti’. :))
(*)
Selasa, 17 April 2012
The Ides of March: Awalnya Membosankan, Tapi...
Sabar adalah kunci saat menonton The Ides of March. Film garapan George Clooney ini memang membosankan di 40 menit pertama. Tapi jangan terburu-buru mematikan pemutar DVD atau menekan tombol fast-forward pada remote control. Tunggu saja.
Tema yang diangkat Clooney sebenarnya bukan barang baru. Film berdurasi 1 jam 42 menit ini bercerita tentang bagaimana politikus bertahan dengan melakukan tawar-menawar politik dan intrik untuk menjatuhkan lawan. Aha! Sudah bikin bosan kan? Jangan lari dulu. Ada twist-nya kok. Dan twist inilah yang bikin film ini menarik. Menurut saya.
Jalan cerita The Ides of March berpusat pada Stephen Meyers (Ryan Gosling), pemuda brilian yang bekerja sebagai manajer junior tim sukses Gubernur Pennsylvania Mike Morris (George Clooney). Morris bersaing ketat dengan Ted Pullman (Michael Mantell) untuk menjadi kandidat presiden dari Partai Demokrat. Morris dan Pullman sama-sama memperebutkan dukungan Senator North Carolina Franklin Thompson (Jeffrey Wright) yang dapat menjadi penentu pemenang kandidat presiden dari Demokrat kelak.
Kedua tim sukses mengerahkan taktik dan strategi untuk memenangi kompetisi termasuk memecah-belah tim lawan. Dan, Meyers pun jatuh ke dalam perangkap. Selesai? Tidak. Meyers masih memegang kartu truf yang bisa menyelamatkan karier politiknya.
Jalan cerita agak membosankan di bagian awal. Untungnya, sebelum saya merasa putus asa, tensi cerita mulai meningkat di pertengahan. Ending film ini dibikin menggantung dan penonton dibiarkan menarik kesimpulan sendiri tentang apa yang terjadi selanjutnya.
Skenario yang ditulis Clooney, Grant Heslov, dan Beau Willimon, berhasil memperlihatkan perubahan karakter Meyers dari seorang yang loyal hingga menjadi musuh dalam selimut bagi Morris. The Ides of March mengingatkan saya kembali bahwa tidak ada yang benar-benar suci dalam politik.
Gosling bermain cukup bagus sebagai Meyers yang ambisius yang melakukan apapun demi menjaga karier politiknya. Film ini juga didukung Philip Seymour Hoffman yang juga bermain bagus sebagai manajer senior tim sukses Morris, Paul Zara, serta Paul Giamatti sebagai Tom Duffy, manajer tim sukses Pullman.
“You want to be president? You can start a war, you can lie, you can cheat, you can bankrupt the country... but you can’t f**k the interns. They'll get you for that.” Stephen Meyers. (*)
Senin, 16 April 2012
J. Edgar: Berkenalan dengan Direktur FBI Pertama
Saya tidak tahu siapa John Edgar Hoover sebelumnya. Thank’s to Clint Eastwood’s biopic, J Edgar, kini saya tahu dia adalah pemimpin Biro Penyelidikan Federal Amerika Serikat (Federal Bureau of Investigation/FBI) yang pertama.
Sebelum menonton filmnya, saya menyempatkan mengulik profil Hoover di internet. Dari sana, saya menangkap kesan bahwa Hoover adalah orang yang kuat dan kontroversial. Di tangan Eastwood, Hoover menjelma sebagai sosok yang kuat sekaligus rapuh, dan tentu saja, kontroversial. Eastwood tidak hanya mengupas sepak terjang Hoover sebagai direktur FBI selama hampir 50 tahun tetapi juga mengajak kita menyelami lebih dalam tentang siapa Hoover. Eastwood juga menyentuh sisi kontroversial dari Hoover termasuk mengenai dugaan orientasi seksual sesama jenisnya.Dengan durasi lebih dari 2 jam, film ini bergerak maju mundur mulai dari masa awal Hoover (Leonardo DiCaprio) memegang posisi pejabat sementara direktur Biro Penyelidikan (nama lama FBI), ketika ia menjadi Direktur FBI, hingga kematiannya. Eastwood menggambarkan Hoover sebagai sosok pendobrak yang membawa pembaruan dalam sistem penyelidikan kasus-kasus kejahatan di Amerika Serikat. Di sisi lain, ia menampilkan Hoover sebagai orang yang tak bisa dinilai secara hitam dan putih. Seperti yang tersirat dari ucapan Hoover kepada tangan kanannya, Clyde Tolson (Armie Hammer), “Sometimes you need to bend the rules a little in order to keep your country safe”.
Tidak lupa Eastwood menyisipkan hubungan antara Hoover dan ibunya (Judi Dench), yang berperan penting dalam membentuk karakter Hoover. Kedekatan Hoover dan deputinya, Tolson, juga diangkat Eastwood. Hubungan keduanya memang memunculkan dugaan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Dan dalam film ini, Eastwood menggambarkan mereka memang saling mencintai. Film ini juga didukung penampilan Naomi Watts yang berperan sebagai Helen Gandy, sekretaris Hoover selama 44 tahun, yang berperan penting dalam pemusnahan dokumen-dokumen penting dan sensitif setelah kematian Hoover.
![]() |
| Gandy (Watts), Tolson (Hammer), dan J. Edgar (DiCaprio) |
Film yang dirilis pada 9 November 2011 di New York ini dikemas cukup menarik karena saya tak merasa bosan mengikuti jalan ceritanya. Namun yang paling mencuri perhatian adalah akting DiCaprio. Akting briliannya membawanya masuk nominasi Golden Globe untuk kategori Aktor Terbaik. Walau akhirnya ia harus merelakan gelar itu jatuh kepada George Clooney lewat aktingnya dalam The Descendants. (*)
Langganan:
Entri (Atom)






