Kamis, 18 Mei 2017

‘The Color of Paradise’: Menyentuh Tanpa Adegan Dramatis



“You know, nobody loves me. Not even Granny. They all run away from me because I’m blind. If I could see, I would go to the local school with other children. But now I have to go to the school for the blind on the other side of the world. Our teacher says that God loves the blind more because they can’t see. But I told him if it was so, He would not make us blind so that we can’t see Him. He answered, ‘God is not visible. He is everywhere. You can feel Him. You see Him through your fingertips.’ Now I reach out everywhere for God till the day my hands touch Him and tell Him everything, even all the secrets in my heart.”

Itu adalah kata-kata yang diucapkan Mohammad (Mohsen Ramezani), seorang bocah tuna netra, di salah satu adegan paling menyentuh dalam film ‘The Color of Paradise’ (1999). Dengan air mata mengalir dan nafas tercekat, Mohammad mencurahkan perasaannya. Dari luar, ia tampak seperti anak-anak seusianya. Ceria dan penuh rasa ingin tahu. Tapi dalam hati, dia menyimpan kesedihan yang mendalam. Menyimpan pertanyaan ‘Mengapa Tuhan menciptakannya sebagai anak yang buta’?

Mayoritas penonton mungkin menempatkan Hashem (Hossein Mahjoub), ayah Mohammad, sebagai tokoh antagonis dalam film ini. Tapi ia pun sebenarnya menyimpan kesedihan mendalam sebagaimana putranya. Ia menggugat Tuhan atas semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Termasuk kelahiran Mohammad di tengah keluarganya.

‘The Color of Paradise’ digarap Majid Majidi, sineas Iran yang juga menyutradarai film ‘Children of Heaven’ (1997). Kedua film tersebut sama-sama mengangkat isu keluarga, dan kemiskinan. Film ini mengajak kita menyelami makna kehidupan dan setiap kejadian di dalamnya. Seperti ‘Children of Heaven’, ‘The Color of Paradise’ mencoba menyentuh bagian terdalam hati penonton lewat adegan-adegan sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan berhasil. Film ini mengajarkan nilai-nilai kesabaran dan keikhlasan tanpa menggurui. Mengaduk perasaan tanpa adegan-adegan dramatis. (*)

Selasa, 09 Mei 2017

Ahok, Tabu, dan Keadilan

Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan kepada Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama Ahok, dalam kasus penodaan agama telah membuat heboh negeri ini. Ada yang menyebut vonis tersebut tidak adil dan mencederai rasa keadilan. Ada yang menyambutnya dengan suka cita karena merasa keadilan telah ditegakkan. Kedua kubu ini, sebelum vonis dijatuhkan, sama-sama mengatakan agar apapun putusan majelis hakim, harus dihormati. Dan kini, vonis telah dijatuhkan.

Bagi orang yang hanya mengamati kasus ini dari jauh, dan bukan termasuk dalam salah satu kubu, saya punya pandangan yang agak berbeda dengan keduanya. Saya mencoba untuk memahami mengapa masing-masing kubu punya pendapat seperti itu. Saya sepakat dengan sebagian pendukung Ahok yang mengatakan kata-kata Ahok tentang Al-Maidah 51 tidak menyinggung perasaan. Karena nyatanya, saya tidak merasa tersinggung dengan ucapan Ahok yang menyandingkan Al-Maidah 51 dengan kata-kata "dibohongin pakai". Kenapa? karena saya tidak meletakkan kemuliaan agama yang saya anut pada mulut atau lidah manusia. Menurut saya, kemuliaan suatu agama tidak akan jatuh hanya karena ucapan manusia. Kemuliaan agama terletak pada penganutnya dan agama itu sendiri. Tapi apakah itu dapat dijadikan ukuran tidak terjadi penodaan agama?

Kita seharusnya juga bisa memahami apa yang dirasakan oleh orang-orang yang merasa tersinggung dengan ucapan Ahok tersebut. Dalam pandangan saya, Ahok telah melakukan hal tabu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menyinggung ayat kitab suci agama lain saat berbicara dalam kapasitasnya sebagai seorang pejabat publik. Mungkin ucapan Ahok tidak akan berbuntut panjang dan seheboh ini jika ia bukan seorang pejabat publik yang dituntut untuk netral. Lalu, apakah itu dapat dijadikan ukuran telah terjadi penodaan agama di sana?

Saya orang yang sangat menyayangkan ucapan Ahok di Kepulauan Seribu itu. Ahok seperti memberi peluang bagi orang-orang untuk menjeratnya secara hukum. Sebelum kejadian itu saja sudah banyak yang tidak suka dengan perangai Ahok yang kerap marah-marah dan mengeluarkan kata-kata keras. Saya tidak mempermasalahkan etnis dan agama Ahok sebagai gubernur. Sekadar informasi, saya bukan warga DKI Jakarta. Tapi sebagai orang yang bekerja di Jakarta, saya merasakan adanya perubahan ke arah lebih baik untuk provinsi ini. Tapi, saya juga bukan pendukung fanatik Ahok, yang memandangnya sebagai sosok tanpa cela. Ungkapan 'mulutmu, harimaumu', mungkin terdengar klise di zaman sekarang. Tapi ada sebagian yang dianggap klise karena memang benar adanya.

Satu lagi yang saya sayangkan adalah keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memvonis Ahok telah menghina kitab suci dan ulama, tanpa terlebih dahulu meminta klarifikasi dengan sang gubernur. Lalu, ke mana prinsip 'tabayyun' (mencari kejelasan tentang suatu masalah) yang selalu dikedepankan MUI selama ini? Bukankah kita diperintahkan agama agar selalu berlaku adil kepada SIAPAPUN?

Undang-Undang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama itu ada di negeri ini. Dan itu fakta. Dan jika ada orang yang menggunakan itu untuk menjerat seseorang secara hukum, apakah itu hal yang salah? The law is there, for God's sake!

Ini hanya pandangan saya. (*)

Sabtu, 06 Mei 2017

The Autopsy of Jane Doe: Teror Jenazah Perempuan Tak Dikenal

Wikipedia
Akhirnya saya dapat kesempatan juga menonton film ‘The Autopsy of Jane Doe’ di bioskop. Saya kira film ini tidak akan tayang di sini. Soalnya di Amerika Serikat, film ini sudah dirilis pada Desember 2016 lalu. Oke, lanjut ke filmnya.

Sejak pertama kali lihat trailernya, saya memang sudah tertarik nonton film ini. Yang paling menarik perhatian saya adalah bunyi ‘kliningan’. Dan setelah  menonton filmnya, bunyi itulah yang paling menghantui saya. Anda akan mengerti setelah menonton filmnya.

Film ini bercerita tentang penemuan jenazah perempuan tanpa busana di sebuah rumah yang menjadi lokasi pembunuhan. Polisi bertanya-tanya apa hubungan jenazah wanita itu dengan empat orang yang ditemukan tewas mengenaskan di rumah tersebut. Pihak berwajib lalu membawa jenazah tanpa identitas itu ke rumah mayat milik keluarga Tilden untuk diotopsi ahli koroner Tommy Tilden (Brian Cox), dan putranya, Austin (Emile Hirsch). Sejak kedatangan jenazah wanita itu, peristiwa-peristiwa aneh mulai terjadi di rumah mayat tersebut. Dimulai dari radio yang berganti saluran sendiri, hingga penampakan bayangan di koridor.

Sutradara André Øvredal sepertinya menempatkan sound sebagai elemen penting dalam film ini untuk menaikkan tensi horor atau sekadar mengagetkan penonton. Filmnya berdurasi 86 menit. Ceritanya padat, dan sebagian besar berlatar di rumah mayat keluarga Tilden.

Sebagai penggemar film horor, 'The Autopsy of Jane Doe’ bagi saya,  telah berhasil menyajikan teror yang sisa-sisanya mungkin akan mengikuti penonton hingga ke luar dari bioskop. Dan bunyi ‘kliningan’ di tengah kegelapan, mungkin akan membuat Anda tidak bisa tidur dan takut untuk mematikan lampu kamar untuk beberapa hari. (*)

Sabtu, 25 Maret 2017

Life: Tidak Baru Tapi Mengasyikkan





Misi luar angkasa, dan alien adalah dua tema yang sangat sering diangkat Hollywood ke layar lebar. ‘Alien‘ (beserta sekuel-sekuelnya), ’The Martian’, ’Gravity’, ‘Passengers’, dan ‘Arrival’ adalah beberapa film yang mengusung tema tersebut, Dan yang baru saja saya tonton, ‘Life’, menambah daftar panjang film sejenis.

‘Life’ berkisah tentang satu tim ilmuan di Stasiun Angkasa Internasional yang meneliti sampel tanah yang diambil dari Mars. Penelitian tersebut bertujuan untuk mencari tahu keberadaan kehidupan di planet merah tersebut. Tahu kan ke mana cerita film ini akan bergulir? Rasanya tanpa perlu memberi bocoran plot mungkin Anda sudah dapat menebak apakah tim tersebut berhasil menemukan apa yang mereka cari atau tidak.

Meski tema yang diangkat bukan sesuatu yang baru, tapi film karya Daniel Espinosa itu menawarkan pengalaman menonton yang mengasyikkan, menurut saya. Tensi cerita terbangun dengan baik, Tidak lambat. To the point. Saya tidak merasa bosan seperti saat menonton ‘Arrival’. Dan, endingnya, saya sudah menduganya. Tapi sebagian penonton mungkin tidak. Tapi saya suka.

'Life’ menampilkan barisan aktor terkenal seperti Jake Gyllenhaal, dan Ryan Reynolds. Ada pula Rebecca Ferguson, Hiroyuki Sanada, Ariyon Bakare, dan Olga Dihovichnaya.

Singkat kata, ‘Life' itu kombinasi antara sedikit ‘Alien’ dan sedikit 'Gravity’. Bagaimana? Tertarik menonton? (*)

Jumat, 10 Maret 2017

Cerita Cinta dan Mata Ketiga


“Kenapa baru sekarang kau mengatakan itu? Kenapa, Pras..?” tanya perempuan itu kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya. Perempuan itu menatap lampu-lampu kendaraan yang merayap pelan di jalanan. Bunyi klakson bercampur deru mesin memenuhi udara.

Laki-laki itu berdiri membatu dan membisu. Kedua tangannya masuk ke saku jaket varsity biru-putih yang membungkus tubuhnya. Ia menatap lampu-lampu berwarna merah dan kuning yang merayap pelan di atas aspal dari bawah kakinya hingga jauh ke depan melewati perempatan, dan terus hingga ke jembatan layang.

“Bulan depan aku menikah. Kau tahu itu, bukan? Kenapa baru sekarang kau mengatakan semua ini, Pras?? Kau tahu..” kata perempuan itu sambil mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wajah laki-laki yang berdiri di samping kanannya itu. Tatapan penuh arti. “Aku menunggu bertahun-tahun untuk kau mengatakan itu padaku. Dan saat aku sudah menyerah, dan berpikir bahwa kau tak akan pernah mengatakan apa yang ingin kudengar selama bertahun-tahun ini, kau melakukannya. Kau ja..,” dia tak melanjutkan ucapannya. Segerombolan remaja yang berjalan sambil ketawa-ketiwi melintas di dekat mereka. Jembatan penyeberangan ini bergetar. “Kau jahat, Pras.”

“Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu merasa seperti ini. Kutarik kembali ucapanku jika itu membuatmu merasa lebih baik. Anggap aku tak pernah mengatakan itu,” kata laki-laki itu.

“Apa?” kata perempuan itu dengan tatapan tajam ke arah laki-laki itu. Sorot matanya memancarkan kekecewaan dan kesedihan. Kaca-kaca mulai membentuk di permukaan kedua bola matanya. Bibirnya bergetar seolah ingin memuntahkan ribuan kata. Tapi tak ada yang terucap. Ia membuang wajahnya kembali ke jalanan. Ke lampu-lampu kendaraan yang bergerak pelan di bawah sana.

Sunyi menyelimuti keduanya. Perempuan itu menengadahkan wajahnya. Mungkin ingin memasukkan air matanya yang akan segera tumpah kembali ke hulunya.

“Sienna.. dulu aku tak pernah yakin dengan apa yang ada di hatiku. Tapi saat kudengar kabar kau akan menikah, duniaku terbalik. Kabar itu menyadarkanku dan membuatku yakin dengan perasaanku. Aku..,”

“Sudah terlambat, Pras,” sambar perempuan itu memotong ucapan laki-laki itu. Perempuan itu menyeka matanya yang akhirnya basah juga, dengan jari-jarinya. Ia menatap laki-laki yang berdiri di sebelah kanannya itu. Tersenyum. “Kau tak mau mengucapkan selamat padaku? Aku akan menikah, Pras,” katanya dengan senyum dan wajah ceria yang dibuat-buat. Ia mengulurkan tangannya. “Ayo, ucapkan selamat padaku. Kau sahabatku, kan?” Tangannya masih terjulur menunggu dijabat.

Laki-laki itu membalas tatapannya. Ia melihat tangan perempuan itu yang masih terjulur menunggu ia jabat. Laki-laki itu mengeluarkan tangan kanannya dari dalam saku jaketnya. Ia meraih tangan perempuan itu dan menjabatnya. “Selamat. Semoga kau bahagia.”

Perempuan itu tersenyum. “Kau juga.” Keduanya pun tersenyum ganjil.

Setelah saling menatap untuk beberapa saat, keduanya melepaskan jabatan tangan. Laki-laki itu menundukkan wajahnya.

“Kau pulang naik apa?” tanya perempuan itu mencoba tak menghiraukan bahasa tubuh laki-laki itu. “Angkot 02. Kau?” “Kita satu arah, masa kau sudah lupa?” “Yuk..” ajak perempuan itu sambil membalikkan badan dan melangkahkan kakinya pelan menuju ujung jembatan penyeberangan.

Laki-laki itu masih berdiri di sana memandang jalanan. Ia kemudian membalik badannya, dan melihat ke arahku. Ia tampak sedikit kaget. Mungkin ia tidak memperhatikanku saat tadi ia tiba di tempat ia berdiri sekarang. Ia menatapku sambil merogoh-rogoh saku jaketnya. Selembar uang duaribuan keluar bersama telapak tangan kanannya dari dalam saku jaket biru-putih itu. Ia mengambil satu langkah ke depan dan meletakkan lembaran itu di tangan kanan mungilku yang sedari tadi menengadah. “Makasi, bang..” ucapku lirih.

Laki-laki itu lalu berjalan ke arah perempuan tadi pergi. Berjalan menunduk dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya. Di ujung, ia berbelok ke kiri lalu menuruni tangga dan menghilang dari pandanganku. (*)