Minggu, 11 Februari 2018

'Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi': Adaptasi Terbaik dari Karya Asma Nadia

Sumber: filmcintaduakodi.com



Dari sejumlah film yang merupakan adaptasi cerita pendek/novel karya Asma Nadia yang pernah saya tonton, 'Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi' menurut saya, adalah yang terbaik. Ceritanya membumi, dan tidak terkesan seperti sebuah dongeng yang susah dibayangkan akan terjadi di kehidupan nyata.

Seperti kebanyakan film yang diangkat dari karya Asma Nadia, 'Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi' menempatkan karakter perempuan sebagai tokoh sentral. Kali ini adalah Kartika yang diperankan dengan baik oleh Acha Septriasa. Kartika atau dipanggil Tika adalah pekerja kantoran yang sehari-hari harus berangkat dan pulang dari Bojong ke Jakarta. Suatu hari, di atas kereta, ia bertemu seorang laki-laki bernama Farid yang diperankan Ario Bayu. Mereka lalu menikah dan memiliki anak. Kehidupan rumah tangga mereka bergejolak saat Farid meminta izin untuk menikah lagi atas permintaan sang ibu. Alasan mengapa sang ibu meminta itu, tidak dijelaskan secara rinci. Tidak terima, Tika yang tengah hamil muda anak keduanya, mengusir sang suami dari rumah. Setahun kemudian, Farid yang tidak jadi menikah kembali. Dan Tika menerimanya.

Selesai? Tentu belum. Karena memang bukan itu inti cerita 'Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi'. Inti cerita film ini adalah perjuangan Tika agar kedua putrinya kelak dapat bersekolah setinggi-tingginya hingga ke luar negeri. Yang sebenarnya merupakan impiannya dahulu yang tidak pernah terwujud. Dalam upaya mengejar impiannya itu, Tika justru membuat suami dan anak-anaknya merasa terpinggirkan dan sedikit demi sedikit mendorong rumah tangganya ke bibir jurang kehancuran.

Drama yang ditawarkan film arahan Bobby Prasetyo dan Ali Eunoia ini tidak mengharu-biru seperti 'Surga Yang Tak Dirindukan' atau 'Assalamu'alaikum Beijing'. Kelebihan lainnya, film ini tidak menciptakan tokoh yang suci tanpa cela. Baik Tika maupun Farid diceritakan sebagai sosok yang sama-sama melakukan kesalahan.

Akting Acha dan Ario sudah tidak perlu diragukan lagi. Keduanya menunjukkan kualitasnya sebagai seorang aktris dan aktor papan atas. Visualisasi dan gambar-gambar yang disajikan juga enak dilihat. Cuma sayangnya, menurut saya, ending-nya klise.

Entah karena kurangnya promosi atau ketatnya persaingan, 'Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi' seperti tenggelam di antara film-film lainnya. Saat saya menonton, tidak sampai sepuluh penonton yang ada di dalam ruang bioskop. Sayang sekali. Padahal, film ini layak mendapat sambutan lebih hangat dari penikmat film Indonesia. (*)

Sabtu, 10 Februari 2018

Apa Sih Tujuan Kita Traveling?




Apa sih tujuan kita traveling sebenarnya? Lari dari rutinitas? Ikutan tren? Memang ingin pergi ke tempat yang dituju? Mencari konten (foto atau video) buat diunggah ke blog/YouTube/media sosial? Atau semuanya? Setiap orang punya tujuannya sendiri-sendiri. Jawabannya bisa saja salah satu dari alasan di atas. Atau bahkan semuanya.

Apapun alasannya, sah-sah saja. Kan pakai duit sendiri. Ya kan? Kalau saya pribadi, biasanya jalan-jalan memang karena ingin kabur sebentar dari rutinitas. Apapun pekerjaan kita, seberapa menyenangkan pun pekerjaan kita, pada satu titik, kita akan merasakan kebosanan. Jalan-jalan mencari suasana baru dan udara yang berbeda, akan memberikan setidaknya sedikit kesempatan untuk meloloskan diri dari kebosanan itu. Walaupun nantinya kebosanan itu masih tetap ada saat kita kembali dari berpelesir.

Tujuan kita traveling akan menentukan perilaku kita di tempat yang dikunjungi. Jika motifnya ingin lari dari rutinitas, kita cenderung akan melakukan aktivitas-aktivitas yang jarang kita lakukan. Bermain pasir di pantai, berenang, snorkeling, berwisata kuliner, memakai pakaian yang jarang kita pakai (celana pendek, singlet, kacamata hitam, dan lainnya), atau sekadar tidur sampai siang. Ya, bagi sebagian orang, tidur adalah barang merah yang tidak setiap hari dapat dilakukan. Apalagi jika pekerjaan menuntut kita berangkat pagi dan pulang malam lima hari dalam seminggu, dan empat jam untuk commuting dari rumah ke kantor setiap hari (20 jam seminggu!).

Saya termasuk orang yang tidak terlalu ngotot untuk pergi bereksplorasi saat traveling ke suatu daerah atau negara. Karena menurut saya, liburan yang sebenarnya adalah beristirahat/nyantai. Merdeka melakukan apapun yang kita inginkan tanpa terikat kewajiban untuk sampai di kantor jam 09.00. Mungkin berbeda dengan mereka yang memang berniat untuk berkeliling atau mencari foto atau video yang bisa diunggah ke blog atau media sosial. “Rugilah jauh-jauh ngeluarin duit cuma buat ngendon di hotel doang.” Mungkin begitu kira-kira pendapat sebagian orang.

Selama kita tidak merugikan orang lain, dan yang paling penting, kita pakai duit sendiri, terserah kita mau melakukan apa saat traveling, bukan? Termasuk tidur. (*)

Minggu, 04 Februari 2018

Hoax: Film yang Menuntut Kesabaran




Menonton film juga membutuhkan kesabaran. Dan itulah yang dituntut ‘Hoax’ dari penontonnya.

Kalau Anda mengira ‘Hoax’ bercerita tentang berita-berita bohong yang kerap tersebar di media sosial, Anda kecele. Film yang diarahkan Ifa Isfansyah ini bertutur tentang apa yang dialami tiga bersaudara yaitu Raga (Tora Sudiro), Ragil (Vino G. Bastian), dan Adek (Tara Basro) di suatu malam di bulan Ramadan.

Cerita diawali saat ketiganya berbuka puasa bersama di kediaman ayah mereka (Landung Simatupang). Raga membawa serta pacarnya, Sukma (Aulia Sarah). Setelah buka puasa, mereka berpamitan kecuali Ragil, kembali ke kehidupan masing-masing dengan permasalahannya sendiri. Film lalu terpecah menjadi tiga; cerita Raga, Ragil, dan Adek. Film lalu melompat dari satu cerita ke cerita lainnya silih berganti.

Secara visual, film ini sangat tidak menarik. Gelap. Entah disengaja atau tidak. Memang ada beberapa bagian yang menceritakan tentang pemadaman listrik. Tapi bahkan di bagian-bagian yang tidak sedang mati lampu pun, gambar gelap.

Anda akan mendapatkan dua genre dalam satu film. Ada horor, dan drama. ‘Hoax’ termasuk jenis film yang menuntut kesabaran dari penontonnya. Terlebih dengan gambar yang gelap seperti itu dan jalan cerita yang tidak biasa. Jika mau bersabar, Anda akan disajikan sebuah cerita yang menarik tentang manusia dan segala persoalan dan rahasianya.

Saat adegan penutup ditampilkan dan credit title mulai muncul, saya masih belum dapat memahami sepenuhnya ending cerita. Lampu bioskop lalu menyala saat adegan masih berlangsung di layar. Gambar yang sudah gelap, menjadi semakin sulit dilihat dengan cahaya lampu yang terang di dalam ruang bioskop. Saya bertanya dalam hati, "Hoax-nya yang mana? Apakah cerita-cerita yang barusan dipaparkan di depan saya itu hanya mimpi? Atau apa?" Mungkin sang sutradara memberikan ruang bagi para penonton untuk menginterpretasikan sendiri ending film tersebut. Saya punya interpretasi saya sendiri. Mungkin Anda juga. (*)

Rabu, 31 Januari 2018

Dilan 1990: Lucu dengan Dialog yang Cerdas






Tidak banyak film yang meninggalkan perasaan puas dan terhibur pada saya setelah menontonnya. Dari yang sedikit itu, Dilan 1990 adalah salah satunya. Di luar dugaan saya, film remaja dengan latar belakang awal 90-an itu membuat saya banyak tertawa. Bahkan lebih banyak dibandingkan saat saya menonton film komedi. Saya belum membaca novelnya yang ditulis oleh Pidi Baiq. Tapi kalau dilihat dari filmnya, barangkali bukunya juga sama menariknya atau mungkin bahkan lebih.

Saya suka dialog-dialog antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Pricilla). Cerdas. Dari dialog antara keduanyalah banyak gelak tawa penonton pecah di bioskop. Banyak penonton cewek bahkan yang sudah tergolong dewasa, yang dibikin gemas oleh tingkah dan gaya Dilan yang cool, urakan, cuek, tapi romantis. 

Film yang disutradarai Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini berdurasi hampir dua jam. Namun, tidak sekalipun saya yang tahun 1990 sudah kelas 2 SD ini, merasa bosan. Adegan demi adegan dijahit dengan rapi. Rasanya tidak ada adegan yang percuma. Ceritanya mengalir tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Tensi terasa sedikit naik di beberapa bagian. Bisa jadi itu salah satu upaya Fajar Bustomi dan Pidi Baiq guna menjauhkan rasa bosan dari penonton.

Dilan 1990 terasa menyegarkan dengan gombalan-gombalan yang cerdas. Lucu tanpa berusaha terlalu keras. Sukses menghadirkan tawa penonton tanpa kehadiran adegan-adegan konyol atau slapstick.

Sementara Iqbaal yang sempat mendapat banyak reaksi negatif dari para penggemar berat novelnya karena dianggap tidak cocok memerankan tokoh Dilan, berhasil membawakan perannya dengan baik. Tidak berlebihan. Chemistry antara Iqbaal dan lawan mainnya, Vanesha, juga cukup kuat.

Kalau ada yang perlu disayangkan, menurut saya, mungkin nuansa era 90-an yang tidak terlalu terasa ya. Selain itu, efek visual di beberapa bagian terutama saat ibunda Dilan mengantarkan Milea pulang dengan mobilnya, terlihat kasar. Mungkin adegannya dibuat dengan latar layar hijau (green screen) sehingga seperti tidak nyata. Tapi itu termaafkan dengan penyajian film yang secara keseluruhan menurut saya, memuaskan. (*)

Senin, 22 Januari 2018

Kota Berwajah Muram



Kemuraman tampaknya sudah menguasai kota ini. Lihat saja, manusia-manusia berwajah muram telah merajai kota ini. Setiap sudut kota sudah dipenuhi oleh mereka. Layaklah apabila kota ini kujuluki kota bermuram durja. Wajah-wajah muram bertebaran di sana-sini. Di tepi jalan yang berdebu, di dalam bis kota yang tua, di atas jembatan penyeberangan yang penuh dengan coretan dan tidak terawat.

Aku berjalan. Aku berpapasan dengan manusia-manusia berwajah muram. Aku tidak sanggup menatap mereka. Aku takut kemuraman akan menyergapku jika terlalu lama memandang mereka. Langit kelabu di atas sana dan udara pengap seperti di dalam ruang karaoke yang dibanjiri asap rokok, menambah kemuraman kota ini.

Seorang pengemis duduk bersimpuh di sudut jembatan penyeberangan. Wajahnya kotor tak terawat. Hitam bak pantat panci. Dengan mata sayu dan pandangan mengiba, ia mencoba menarik perhatian orang-orang yang berjalan dengan langkah monoton dan hilir mudik di hadapannya. Wajah mereka juga tidak lebih bahagia dari pengemis itu. Hanya saja mereka terbungkus pakaian yang lebih bersih. Di mataku mereka sama saja. Muram tak bergairah.

Kurogoh saku celanaku. Sebuah koin menyentuh ujung jariku. Aku keluarkan benda pipih itu dari saku. Kutatap sejenak. Uang logam lima ratusan. Ku ulurkan tanganku ke wadah plastik bekas kemasan sabun colek yang dipegang pengemis itu. Ku jatuhkan uang logam itu ke wadah berwarna biru itu. "Tek" bunyi benturan logam dengan plastik menyembul ke udara dan menyentuh gendang telingaku. Kedengarannya koinku adalah yang pertama yang singgah di wadah berwarna biru langit itu. Atau mungkin saja si pengemis sudah memasukkan hasil mengemisnya sepanjang hari ini ke dalam saku celananya yang lusuh atau kantong plastik hitam yang duduk manis di sebelahnya itu. Dengan suara hampir tak terdengar, pengemis itu mengucapkan terima kasih. Setidaknya itulah yang kudengar.

Kulanjutkan langkahku menuruni jembatan penyeberangan yang bergetar akibat langkah-langkah manusia yang menjalari punggungnya. Laju kendaraan yang bergerak cepat di bawah sana membuatku pusing. Oh, kota yang aneh. Mengapa begitu banyak orang yang tertarik datang ke sini?

Raungan mesin kendaraan seakan tak pernah berhenti memekakkan telinga. Mesin-mesin itu seolah berteriak minta tolong. Tetapi suara-suara mengiba mereka bukan tandingan klakson dan suara cempreng kenek-kenek bus kota.

Tiga perempuan muda berbusana kantoran berjalan ke arahku. Wajah mereka muram. Bau parfum langsung menusuk hidungku begitu aku berpapasan dengan mereka. Bau parfum mereka menusuk hidungku bergiliran. Mawar. Melati. Dan, apa ini...? Aku tidak mengenal bau parfum yang ketiga. Namun, jelas yang satu ini berbau lebih enak ketimbang dua lainnya.

Sebuah metromini berhenti tidak jauh dari tempatku berjalan. Seorang pria paruh baya dan seorang siswi SMA keluar dari kedua pintunya. Keduanya berwajah muram. Metromini itu langsung tancap gas begitu kaki kiri siswi SMA itu menjejak di atas aspal. Asap hitam mengepul dan langsung disambar sebuah bis kota yang mengerem tepat di tempat metro mini tadi berhenti. Sekitar sepuluh orang berebut menaiki bus itu. Seorang kenek yang kepalanya menyembul dari balik pintu belakang bus berteriak-teriak seolah berusaha membungkam deru mesin kendaraan.

Aku melangkahkan kakiku menuju sebuah mal. Hawa sejuk menyergapku begitu aku masuk ke dalam bangunan pusat perbelanjaan itu. "Terima kasih", kata seorang satpam ramah begitu selesai memeriksa ranselku. Senyum menyungging di bibirnya. Senyum yang dipaksakan dan wajah yang muram. Klop.

Aku masuk ke sebuah department store yang tidak begitu ramai. Pakaian-pakaian indah dan licin. Tas-tas bermerk. Sepatu-sepatu berkelas. Mereka ada di setiap sudut department store ini.

Seorang wanita berusia sekitar 30-an tahun berkulit bersih dan mulus mengamati sebuah manekin yang berdiri dengan balutan gaun hitam. Ia menyapukan pandangannya ke sekujur tubuh manekin itu. Wanita itu lalu menjulurkan tangannya dan memegang gaun itu. Wajahnya serius. Dari tatapannya, sepertinya ia sudah jatuh cinta dengan gaun itu. Wanita itu lalu mengangkat wajahnya dan menyapukan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Ia mencari-cari sesuatu atau seseorang. "Mbak," katanya begitu matanya jatuh pada suatu titik. Seorang pramuniaga yang sedang berjongkok sambil menata tumpukan blouse di sebuah rak segera menghentikan aktivitasnya. Pramuniaga itu lalu berdiri dan datang menghampiri si wanita berkulit bersih itu. "Saya ingin mencoba ini," kata wanita itu kepada si pramuniaga sambil menunjuk gaun tadi.

Tunggu. Wajah wanita itu...Wajahnya tidak muram. Ternyata masih ada manusia berwajah cerah di kota ini.

Aku berjalan menuju bagian sepatu. Mataku langsung tertumbuk pada sosok wanita yang berdiri di depan sebuah cermin besar. Tubuhnya langsing. Wanita berusia sekitar pertengahan 20-an tahun itu mengenakan blouse krem dengan rok berpotongan pendek di atas lutut berwarna hitam. Wanita itu melihat ke bawah. Ke arah kaki kanannya. Sebuah sepatu hak tinggi dengan warna merah menyala bercokol di kaki kanan wanita itu. Matanya kini menatap bagian bawah cermin yang memantulkan bayangan kakinya yang terbungkus sepatu merah menyala itu. Senyumnya mengembang. Ia berbalik. Dari tempatku berdiri, kini aku bisa melihat dengan jelas paras wanita itu. Cantik. Dan wajahnya cerah. Lagi, manusia berwajah cerah.

Aku lalu melihat sekeliling. Wanita itu tidak sendiri. Ada banyak manusia-manusia berwajah cerah di tempat ini. Di sini tempat berkumpul manusia-manusia berwajah cerah, ternyata.

Aku berjalan menuju bagian pakaian pria. Kondisi serupa pun aku lihat di sini. Aku juga melihat banyak manusia berwajah cerah. Andaikan saja kota ini dipenuhi dengan manusia-manusia seperti mereka. Beberapa manusia berwajah cerah tengah mengantre di depan kasir. Aku berjalan melewati mereka.

Tidak jauh dari sana, seorang pria paruh baya baru saja melangkah ke luar dari sebuah kamar pas. Ia meninggalkan tirai kamar pas itu terbuka. Ketika aku berjalan melewati kamar pas itu, aku mengarahkan pandanganku sekilas ke dalam. Sebuah cermin besar tergantung di dalam kamar pas itu. Lalu, tenggorokanku tercekat. Aku menghentikan langkahku seketika. Apa itu tadi? Sepertinya aku baru saja melihat sesosok wajah muram di dalam kamar pas tadi. Tidak salah? Di tempat ini?

Tidak percaya dengan apa yang mungkin baru saja kulihat, aku mengambil satu langkah mundur. Dengan perlahan. Aku lalu melongok ke dalam kamar pas itu. Benar saja. Wajah muram itu di sana. Ia benar-benar di sana. Memandang lurus ke cermin. Wajah muram itu memandang balik ke arahku dengan tatapan tidak percaya.

Wajah muram itu terpaku. Membatu di depan sebuah cermin besar. (*)