Langsung ke konten utama

The Blair Witch Project: Mencekam Tanpa Penampakan Makhluk Halus

Setelah 12 tahun sejak dirilis, saya baru punya kesempatan untuk menonton The Blair Witch Project. Saya pertama kali mendengar film ini sekitar 2002 (atau 2003, saya lupa persisnya). Seorang teman menyarankan agar saya menonton film ini karena menurutnya bagus. Saat itu, saya gak terlalu tertarik. Tapi rasa penasaran saya akan film ini mulai timbul setelah menyaksikan Paranormal Activity 3. Dan, akhirnya saya menonton film garapan Daniel Myrick dan Eduardo Sanchez itu.

Film berdurasi 79 menit itu konon hanya berbiaya produksi tidak lebih dari 750 ribu dolar. Tapi, keuntungan yang dihasilkan mencapai lebih dari dua ratus kali lipat! Luar biasa bukan?! Sebenarnya apa sih yang bikin film ini begitu menarik? Mungkin jika saya menontonnya 12 tahun lalu, saya gak akan heran dengan kesuksesan The Blair Witch Project. Tapi setelah menonton beberapa film yang menggunakan konsep found-footage, The Blair Witch Project terasa tidak fresh. Tapi sebenarnya film ini punya keistimewaan sendiri. Saya akan mengupasnya satu persatu.

Film ini bercerita seputar tiga mahasiswa yang datang ke sebuah hutan bernama Black Hill di dekat Burkittsville, Maryland, Amerika Serikat, pada 1994 lalu. Heather Donahue, Michael C. Williams, dan Joshua Leonard datang ke hutan tersebut untuk melakukan pengambilan gambar untuk sebuah proyek film dokumenter tentang legenda arwah penasaran seorang penyihir yang dikenal dengan nama Blair Witch. Dan gambar-gambar di film ini, ceritanya, berasal dari gambar-gambar yang dihasilkan dua kamera yang dibawa ketiga mahasiswa tersebut.

Jika Anda mengharapkan adanya penampakan makhluk halus seperti di film-film Paranormal Activity, Anda dipastikan akan kecewa. Pasalnya, penonton sama sekali gak diberi kesempatan untuk melihat dengan kepala dan mata sendiri tokoh antagonis dalam film ini. Tapi itu tak berarti film ini gak ada greget. Justru dengan begitu, suasana mencekam yang coba diciptakan duo sutradara Myrick dan Sanchez lebih terasa menggigit. Ditambah lagi, dengan gambar hitam putih cenderung gelap yang membuat suasana semakin suram dan mengerikan. Gambar yang gelap juga memaksa para penonton mengandalkan indera pendengarannya untuk mencari tahu siapa dan apa yang sedang ‘mengerjai’ ketiga karakter dalam film ini.  

Horor bukan satu-satunya jualan The Blair Witch Project. Penonton juga diajak menyelami emosi yang dirasakan Heather, Michael, dan Joshua saat mereka mulai putus asa dan kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari Black Hill. Penonton akan ditarik ikut dalam perdebatan saling menyalahkan di antara ketiga karakter dan kesal terutama dengan Heather, si empunya proyek, dan Michael.

Jika dibandingkan dengan Paranormal Activity, The Blair Witch Project terasa lebih alami karena ketiadaan penampakan makhluk halus yang dibuat efek khusus komputer. Tapi memang, gambar yang banyak berguncang karena pemakaian teknik hand-held camerawork, bagi sebagian penonton cukup mengganggu. Tapi bagi saya, justru itu yang bikin The Blair Witch Project semakin istimewa. (*) 

Komentar

  1. link buat download nya gan

    BalasHapus
  2. Jadi inget, dulu banyak yang percaya kalo Blair Witch ini beneran. Mungkin kalo aku nontonnya jaman dulu juga bakal kecele, hahaa..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vanishing on 7th Street: Horor Yang Konyol

Ide cerita yang ditawarkan Vanishing on 7th Street sebenarnya cukup menjanjikan. Orang-orang  menghilang secara tiba-tiba dan hanya meninggalkan baju, celana, dan sepatu. Dunia mendadak kosong dan hanya beberapa manusia yang tersisa. Kegelapan melingkupi dunia. Dengan ide cerita seperti itu, rasa penasaran penonton seharusnya bisa dibangkitkan untuk kemudian bisa dipaksa untuk menyaksikan film sampai akhir. 
Setelah menonton film ini, saya merasa seperti menonton kembali film garapan M Night Shyamalan, The Happening. Kedua film tersebut menawarkan ide cerita yang bisa dibilang hampir sama. Keduanya sama-sama menarik. Pada awalnya. The Happening menceritakan tentang serangan racun misterius yang menyebabkan siapapun yang terkena mendadak linglung dan akhirnya bunuh diri. Sangat menarik bukan? Sayangnya, kedua film ini sama-sama gagal mengolah ide cerita yang bagus itu menjadi suatu cerita utuh yang memuaskan.
Seperti setelah menonton The Happening,saya pun dibuat bertanya-tanya tentang …

Sistem Transportasi Publik Kuala Lumpur Bikin Iri

Ketika berkunjung ke negara lain, baik sadar atau tidak, kita akan membandingkannya dengan kondisi di negara kita. Dan, itulah yang saya lakukan ketika menginjakkan kaki di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia. Saya tak perlu menjelaskan betapa tertinggalnya Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta dengan KLIA. Kita memang tertinggal dalam banyak segi. Sad but true.

Tiga hari dua malam, berkeliling di Kuala Lumpur, membuat saya semakin sadar, Jakarta tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kuala Lumpur atau KL untuk urusan sistem transportasi publik. KL punya sistem kereta yang terintegrasi, nyaman, dan murah. Wisatawan seperti saya, sangat mudah untuk berkeliling karena hampir semua stasiun dekat dengan spot-spot wisata utama.

Memang, KL tidak sebersih dan seteratur Singapura. Saya masih melihat sampah plastik di selokan dan orang menyeberang jalan saat lampu hijau seperti di Jakarta, cuma tidak separah di ibukota kita tercinta. Saya yang sehari-hari menggunakan tran…